Serpihan Mimpi…

engaged ring2 copy

Serpihan Mimpi...

…tembang terakhir sudah selesai dimainkan, pertanda sebentar lagi acara juga akan segera usai. Perlahan kulirik arlojiku, jarum pendek sudah menunjuk angka dua dan jarum panjang sekitar enam puluh derajat di kanannya. Para tamu sudah mulai berdiri hendak memberi salam dan selamat untuk kita, kurapikan letak hiasan bunga yang yang hampir jatuh dari jilbabmu saat kita hendak menyambut mereka, dan engkaupun membalas membenarkan letak dasiku sambil tersenyum padaku… manis… mungkin yang termanis yang pernah kulihat…

…sudah hampir satu jam acara selesai, aku masih duduk di ruang tengah rumahmu menunggu azan ‘ashar, sambil merenungi semua yang baru saja kualami. Mataku tertuju pada sebuah benda yang terletak di atas meja kecil di sudut ruangan, keranjang rotan yang dibungkus plastik bening berhias ornamen bunga, dan tentu saja aku tahu isinya, ya, mushaf dan seperangkat alat shalat yang ditata rapi, juga beberapa gram emas serta beberapa puluh lembar ratusan ribu rupiah. Aku tersenyum kecil, maharku sebenarnya adalah telah kuberanikan diri membuang segala ragu dan rasa takutku untuk menyandingmu… ya, itu saja…

…azan ‘ashar sudah berkumandang, kaulingkarkan tanganmu mesra di bahuku, dan berbisik lembut di dekat telingaku tuk mengajakku menyambut seruanNya. Aku mengangguk tersenyum, sambil kukecup keningmu (aku akan membiasakan hal yang satu ini), karena mulai hari ini engkau telah halal untukku. Di salah satu bilik rumahmu kita pun lalu shalat ‘ashar berjamaah setelah mengumpulkan dzuhur yang tadi terlewat, walau sebenarnya aku ingin shalat ke masjid, tapi tak apa, di sinipun kita berdua masih bisa khusyu’ tuk bersujud syukur padaNya…

…kulangkahkan kakiku sepulang dari masjid sebelah rumahmu sehabis maghrib, ah, entah kenapa kepala ini tiba-tiba pusing, aku berjalan terhuyung, padahal beberapa langkah lagi sudah akan sampai ke halaman rumahmu. Samar-samar masih sempat kulihat keluargamu bercengkerama di beranda, keponakan-keponakan kecilmu lucu berebut buah-buahan hiasan dekorasi, para tetangga sibuk membongkar tenda, mengumpulkan kursi dan meja, beberapa mulai menaikkan pelaminan ke atas truk, juga ada ibu-ibu yang lewat menyapaku sehabis membereskan kerjaan dapur. Mereka semuanya tersenyum ramah padaku, kubalas sebisa dan seramah mungkin sambil menahan rasa sakit yang semakin menyengat, namun… ah, dunia terasa gelap dan berputar… aku pingsan, terjatuh… masih bisa kurasakan derap kaki mereka berlarian hendak menolongku…

…kucoba membuka mataku walau berat, kurasakan lembut tanganmu menyeka keningku yang bercucuran keringat dingin, engkau pun tersenyum padaku, manis, tapi tentu saja bisa kurasakan guratan kekhawatiran dari wajahmu, apalagi bias cahaya lampu jelas memperlihatkan bekas buliran air mata di pipimu. Kusapukan juga pandanganku ke sekeliling kamar, keluargamu dan keluargaku pun kulihat hangat mengelilingi kita, mereka juga tersenyum padaku. Kulihat jam dinding kamarmu sudah menunjuk jam sebelas malam lebih, ah, sudah hampir lima jam aku pingsan. Aku hendak bangun mengambil air wudhu untuk ‘isya, namun mereka segera mencegahku dan menyuruhku untuk shalat sambil tiduran saja. Mereka benar, mengangkat tanganku untuk tayamum saja terasa begitu berat. Kau pun lalu membantuku menyibakkan helai-helai kelopak mawar yang bertaburan di tempat tidurmu, agar aku bisa leluasa bertayamum di atasnya. Alhamdulillah aku masih sempat ‘isya… namun, baru saja selesai kulafalkan salam tuk mengakhiri shalatku, kepala ini kembali dihujam rasa sakit, kali ini terasa jauh lebih sakit dari yang tadi… duniaku pun kembali gelap dan berputar… gelap…

…terdengar bunyi melengking yang tak asing lagi ditelingaku, semakin lama semakin keras saja suaranya, kuraih benda hitam yang terletak di ujung tempat tidurku itu, kumatikan alarmnya sambil kulirik angka digital di layarnya, 04:17. Kunyalakan lampu ruangan lalu duduk bersandar sejenak, sama sekali sudah tak terasa lagi sakit di kepalaku, kusapukan pandangan ke ruangan ini, ah, aku masih berada di kamar kostku…  astaghfirullah… ternyata mimpi itu lagi… Kuraih botol air mineral disampingku dan kuminum beberapa teguk. Tak lama berselang, mushalla seberang kost mulai mengumandangkan azan, kulangkahkan kakiku ke luar kamar untuk mengambil air wudhu… kupenuhi panggilanMu ya Rabb…

…04.57, masih ada satu jam lebih lagi sampai waktuku biasa mandi lalu berangkat kerja. Kuhempaskan lagi tubuhku ke tempat tidur, nyaman memang, namun tak senyaman hatiku saat ini. Perlahan kuraih kertas tebal merah yang terlipat rapi disampingku, di salah satu sisinya terukir indah firmanNya dengan tinta emas, klasik, arRum:21, dibawahnya juga tertulis doa-doa indah. Kubalik kertas itu hingga nampak halaman mukanya, aku tersenyum kecil, lirih kueja sebuah nama indah yang tertera disana, sebuah nama yang juga pernah bertahun-tahun terukir di dinding hatiku, aku tak tahu pasti apa arti nama itu sebenarnya, entah, namun bagi hatiku… dulu… nama itu berarti… sebuah harapan… Bicara tentang nama, kualihkan lagi pandanganku pada nama lain di sebelah namamu… nama yang asing bagiku… tentu saja bukan namaku yang tertera di sana… bukan…

…Kulipat rapi kembali kertas merah cantik itu dan kuletakkan lagi agak jauh dari tempat semula. Ah, syaitan memang penipu yang pandai. Namun takkan kubiarkan mereka mencoba memperdayaku dengan kata-kata ‘andaikan dulu’ atau ‘seandainya saja’, karena kuyakin Dia Maha Mengetahui, sedang aku tidak mengetahui, aku akan sabar terhadap musibah dan syukur terhadap anugerah, pendirianku akanmu masih tetap seperti dulu, cukuplah Dia menjadi saksi takkan pernah ada setitikpun bulir penyesalan yang akan membasahi mata ini. Walau mungkin sudah selayaknya andaikan sejenak aku menderaikannya untuk mengenang seseorang yang sebegitu baik seperti dirimu, sebegitu lembut akhlakmu, sebegitu halus budimu, sebegitu indah sikapmu, sesederhana sepertimu, tapi aku tak ingin… Terlalu naif jika bicara cinta tanpa melihat kenyataan yang terbentang di hadapan kita, aku tak ingin menjadi duri yang menyakitimu, batu sandungan yang mengganjal langkahmu, atau kabut yang kan menghalangi masa depanmu… akan kugenapi kesabaranku. Telah kukafani dan kukuburkan perasaan itu jauh di lubuk hatiku yang terdalam, telah kutaburkan sekeranjang bunga ketulusan serta kusiramkan air keikhlasan di atas pusaranya. Sengaja tak kutandai dengan batu nisan, sebab tak ingin lagi aku bertakziyah ke makam itu. Cukuplah untuk terakhir kalinya kubisikkan sebait doa sebelum kuberlalu, semoga Allah senantiasa menaungimu dengan kasih sayangNya, dan dihiasinya selalu hari-harimu dengan kebaikan dan barakahNya… Amin…

…Mungkin semerbak roncean kalung melati itu masih saja terasa harum mengganggu saat kuambil air wudhu subuhku tadi. Mungkin juga masih terbayang tawa kecilmu saat kita saling melempar daun suruh, ya, lemparanku tepat mengenaimu, namun lemparanmu meleset dariku, untuk sesaat sempat terlintas khawatir di batin ini, adakah itu merupakan sebuah pertanda untuk rumah tangga kita kelak, ah, kukira mungkin hanya karena kau melemparnya sambil menunduk tersenyum malu sehingga tak mengenaiku. Atau mungkin juga masih terbayang saat kurapikan letak hiasan bunga yang hampir jatuh dari jilbabmu, ketika para tamu mulai berdiri hendak memberi selamat dan doa untuk kita. Juga lincah gadis kecil berjilbab, tiga atau empat tahunan yang bangunkan aku dengan senyum manis dan mata bening yang mirip sekali dengan ibunya itu masih saja selalu terbayang saat kulangkahkan kakiku menyambut azan… namun kuyakin, serpih-serpihan mimpi tiga puluh enam purnama itu sudah akan sirna dengan sendirinya saat dhuha nanti… aku yakin…
aku yakin…

…………………………………………………….

برك الله لك وبرك عليك وجمع بينكما في خير

Barakallahulaka wa baraka ‘alaika, wa jama’a bainakuma fii khair…

Amin…
…………………………………………………….

Nous vous remercions de la chance que vous avez donné
Je suis désolé je ne peut pas prendre le risque
votre bonheur est aussi le mien
je vous remercie de toute la mémoire….

001

001

…i know this day will come… and since long time ago, i know if it wasn’t me who will be standing next there…

003

002

break_ice1 copy

003

3 Tanggapan

  1. seru…baguussss

    **************
    Irfani Latif :
    Pengantin baru dilarang baca kisah seperti ini,Mas…
    He5x… :mrgreen:

    November 16, 2009 pukul 5:23 pm

  2. I like this story.. meski awalnya agak sedikit membingungkan.. :)

    Juli 3, 2010 pukul 7:58 pm

  3. bagus bang…namun agak bingung juga sihh…hehehehe

    Desember 11, 2010 pukul 10:35 am

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.