Umum

Aku Ingin Mencintai-Mu


aku ingin mencintaiMu dengan sesungguhnya…
dengan kata yang kan selalu diucapkan,
awan kepada hujan yang menjadikannya air…

aku ingin mencintaiMu dengan sesungguhnya…
dengan isyarat yang kan selalu disampaikan,
kayu kepada api yang menjadikannya cahaya…

Iklan

Sebuah Sketsa Cinta



alangkah indahnya hidup ini bila kita mewarnakan putih…
bukanlah putihnya asap dari amal kita yang terbakar ujub dan riya’, atau putihnya nanah dari luka nurani yang tak kunjung pulih…
tetapi putihnya, akal yang sejernih air, jiwa yang sesejuk salju, hati yang sebening embun, terangkum dalam pribadi yang shalih…

alangkah indahnya hidup ini ketika kita menyiratkan hitam…
bukan karena hati tertutup kegelapan, dalam hijab kesesatan yang kelam…
tetapi untuk membingkai warna-warni kebijaksanaan dari pemahaman yang mendalam…

alangkah indahnya hidup ini saat kita menggoreskan merah…
bukan untuk meluapkan amarah, apalagi membuat darah orang tak bersalah tertumpah…
tetapi sebagai keberanian yang tertegas, atas semangat gelora cinta yang membuncah…

alangkah indahnya hidup ini jika kita menorehkan jingga…
bukan sekedar untuk kesombongan semata, tetapi persembahkanlah untuk membuatNya bangga…

alangkah indahnya hidup ini bila kita menghamparkan hijau…
bukan karena membiarkan kezaliman, tetapi untuk meneduhkan jiwa-jiwa yang risau…

alangkah indahnya hidup ini andai kita menggambarkan biru…
bukan untuk melangitkan keangkuhan, tetapi untuk meluaskan samudera ilmu…

alangkah indahnya hidup ini waktu kita melukiskan ungu…
bukan untuk mengumbar kenikmatan semu, tetapi untuk mengendalikan hawa nafsu…


Jika Diri Ini


ya Allah…
jika diri ini begitu hina,
yang merasa tinggi dengan merendahkan sesama…
andai akal ini begitu kerdil,
yang senantiasa menganggap diri paling benar dan paling adil…
atau jiwa ini begitu rakus,
yang tak henti mengharap perhiasan dunia dengan cinta yang tak pernah pupus…
pun mungkin akhlak ini begitu meresahkan,
hingga tiada seorangpun yang nyaman berdekatan…

maka biarkanlah kami menjadi ulat,
agar masih Engkau limpahkan kasih sayangMu,
serta petunjuk dan kesempatan,
supaya diri ini dapat bertaubat…

bersabar dalam gelap,
berjuang dalam keterbatasan,
berkarya dalam diam,
bertahan dalam kesempitan…

hingga nanti suatu saat,
tuntunlah kami agar menjadi kupu-kupu,
yang tiada pilihan lagi selain terbang menari,
melantun kebaikan di antara bunga,
menebar keindahan pada dunia…

dan angin pun memeluknya,
dalam sejuk dan wangi taman syurga…


Kubaca Firman Persaudaraan


 

ketika kubaca firmanNya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”
aku tahu, ukhuwah tak perlu diperjuangkan
tak perlu, karena ia hanyalah akibat dari iman

aku ingat pertemuan pertama kita, akhi sayang
dalam dua detik, dua detik saja
aku telah merasakan perkenalan, bahkan kesepakatan
itulah ruh-ruh kita yang saling sapa, berpeluk mesra
dengan iman yang menyala, mereka telah mufakat
meskilisan belum saling sebut nama, dan tangan belum berjabat

ya, kubaca lagi firmanNya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”
aku makin tahu, persaudaraan tak perlu diperjuangkan

karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh
saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan
saat pemberian bagai bara api, dan saat kebaikan justru melukai
aku tahu, yang rombeng bukanlah ukhuwah kita
hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau menjerit
mungkin dua-duanya, mungkin kau saja
tentu terlebih sering, imankulah yang compang-camping

kubaca firman persaudaraan itu, akhi sayang
dan aku makin tahu,mengapa di kala lain diancamkan;
“para kekasih pada hari itu, sebagian menjadi musuh sebagian yang lain..
kecuali orang-orang yang bertaqwa”

-Salim A. Fillah-
http://www.fillah.co.cc


Imsak dan Sahur Rasulullah SAW


Assalamualaikum wr wb.

Pak Ustad, saya mendengar ada yang mengatakan bahwa Rasulullah mengakhirkan sahur ketika mendengar suara adzan subuh, sementara selama ini banyak yang memahami bahwa waktu imsak adalah 10 menit sebelum adzan subuh, bgm yang benar?terimakasih atas penjelasannya. Jazakumullah

arum_wates

JAWABAN

Waalaikumussalam Wr Wb

Rasulullah saw menamakan sahur dengan istilah ’makan pagi yang diberkahi’ sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasai dan Ahmad dari la ’Irbadh bin Sariyah berkata,”Rasulullah saw mengajakku untuk bersahur didalam bulan Ramadhan dengan bersabda,”Mari kita makan pagi yang diberkahi.”

Didalam riwayat Ahmad dari Abu Said bahwa Rasulullah saw bersabda,”sahur seluruhnya adalah keberkahan maka janganlah anda meninggalkannya walaupun seseorang dari kalian hanya meminum seteguk air. Sesungguhnya Allah swt dan para malaikatnya memberi salam kepada orang-orang yang bersahur.”

Didalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Aisyah pernah ditanya tentang dua orang yang salah satunya menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur sedangkan yang lainnya mengakhirkan berbuka dan menyegerakan sahur maka dia menjawab, ”Siapa dari keduanya yang menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur?’ orang itu menjawab,”Dia adalah Abdullah bin Mas’ud.” Aisyah menjawab, ”Demikianlah Rasulullah saw melakukannya.”

Diriwayatkan oleh Ahmad dari Bilal berkata, ”Aku mendatangi Rasulullah saw dan mengadzankan shalat. Beliau saw ingin berpuasa maka dia pun meminum kemudian beliau saw memberikannya kepadaku dan keluar untuk shalat, ini adalah sebelum masuknya fajar.” Riwayat dari Anas didalam ash Shahihain disebutkan,”Sesungguhnya Bilal telah mengumandangkan adzan pada waktu malam (sebelum fajar) maka makan dan minumlah sehingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzannya.” Sesungguhnya Ibnu Ummi Maktum adalah seorang buta yang tidak mengumandangkan adzan kecuali jika dikatakan kepadanya, ”Telah shubuh, telah shubuh.”

Terdapat riwayat yang membatasi waktu antara sahur dengan shalat didalam hadits Zaid bin Tsabit yang berkata, ”Kami (menyelesaikan) sahur bersama Rasulullah saw kemudian kami mengerjakan shalat.” Anas berkata, ”Berapa lama antara keduanya?” Zaid menjawab, ”Sekitar lima puluh ayat” (Muttafaq Alaihi)

Dari hadits Bilal diatas dapat difahami bahwa adzan pertama yang dikumandangkannya adalah untuk membangunkan seorang yang hendak berpuasa keesokan harinya agar bersahur. Sedangkan adzan kedua yang dikumandangkan Ibnu Ummi Maktum adalah datangnya waktu shubuh yang menandakan berhentinya waktu sahur.

Waktu imsak yang ditentukan sepuluh menit sebelum shubuh itu adalah perkiraan para ulama yang setara dengan seorang yang membaca sebanyak 50 ayat Al Qur’an, yaitu batas waktu antara selesainya sahur dengan adzan waktu shubuh. Dan 50 ayat ini adalah waktu yang cukup atau tengah-tengah, ia tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.

Pada dasarnya waktu akhir dari sahur seseorang adalah sedikit menjelang masuknya waktu fajar akan tetapi diharamkan baginya jika telah masuk waktu fajar. Namun demikian dianjurkan agar seorang yang bersahur menghentikan sahurnya pada sepuluh menit sebelum masuknya shubuh agar dirinya memiliki kesiapan penuh untuk berpuasa esok harinya dan agar dirinya juga bersiap-siap untuk melaksanakan shalat shubuhnya.

Wallahu A’lam

(sumber : eramuslim.com)


Waktu Pelaksanaan I’tikaf


Monday, 31/08/2009 10:47 WIB
Assalamu’alaykum wr wb,

Yth Ustaz,

Saya insya Allah berencana melakukan iktikaf pada bulan ramadhan ini.

Mengenai waktunya, apakah pada siang hari atau malam hari? atau siang malam?

Apa saja syarat-syarat lainnya?

Terima kasih banyak.

wassalam,

Kalam Dzikra

Kalam Dzikra

JAWABAN

Waalaikumusalam Wr Wb

Semoga Allah swt memudahkan rencana anda untuk dapat beri’tikaf pada akhir-akhir ramadhan nanti.

Terjadi perselisihan ulama tentang pengertian itikaf menurut syariah :

1. Para ulama Hanafi mengatakan bahwa itikaf adalah menetap di masjid yang didalamnya dilakukan shalat berjamaah dalam keadaan berpuasa serta niat untuk beritikaf sedangkan menetap adalah rukunnya. Adapun masjid jamaah yang dimaksud adalah masjid yang memiliki imam dan muadzin baik didalamnya dilakukan shalat lima waktu atau tidak.

2. Para ulama Maliki mengatakan bahwa itikaf adalah berdiam diri (menetap) yang dilakukan seorang muslim yang mumayyiz di sebuah masjid dalam keadaan berpuasa serta menahan diri dari jima’ dan pendahuluannya selama sehari semalam atau lebih untuk beribadah dengan menyertakan niat.

3. Para ulama Syafi’i mengatakan bahwa itikaf adalah berdiam diri di masjid yang dilakukan seorang tertentu dengan menyertakan niat.

4. Para ulama Hambali mengatakan bahwa itikaf adalah berdiam diri di masjid untuk taat kepada Allah dengan keadaan tertentu dari seorang muslim, berakal dan tamyiz dalam keadaan suci dari hal-hal yang mewajibkannya mandi. Waktu minimalnya adalah sesaat.

Dalil-dalil disyariatkannya itikaf adalah terdapat didalam Al Qur’an, sunnah maupun ijma’ para ulama :

1. Firman Allah swt :

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
Artinya : ”Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.” (QS. Al Baqoroh : 187)

2. Sedangkan sunnah adalah apa yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Anas dan Aisyah bahwa Nabi saw beritikaf di sepuluh malam terakhir dari Ramadhan sejak beliau saw datang ke Madinah hingga Allah swt mewafatkannya saw.” (Muttafaq Alaihi). Imam Zuhri mengatakan,”Manusia memang aneh, mengapa mereka meninggalkan itikaf padahal Rasulullah saw melakukannya dan tidak pernah meninggalkannya. Beliau saw tidak pernah meninggalkanya hingga dirinya meninggal dunia.”

Adapun waktu yang disukai untuk itikaf ini adalah pada bulan Ramadhan atau bulan lainnya, sedangkan tentang waktu minimalnya maka terjadi perselisihan :

1. Para ulama Hanafi mengatakan bahwa itikaf minimal dilakukan sejenak tanpa ada batasan waktu. Berpuasa bukanlah persayaratan dalam itikaf sunnah.

2. Para ulama Maliki mengatakan bahwa waktunya adalah sehari semalam, sedangkan yang paling baik adalah sepuluh hari. Tidak sah itikaf bagi orang yang tidak berpuasa walaupun dirinya memiliki uzur. Barangsiapa yang tidak mampu berpuasa maka tidak sah itikafnya.

3. Pendapat yang paling benar dari para ulama Syafi’i adalah itikaf disayaratkan menetap sesuai kadar berdiam diri itu sendiri. Waktunya adalah lebih sedikit dari waktu lamanya thuma’ninah saat ruku’ atau sejenisnya.

4. Sedangkan para ulama Hambali mengatakan bahwa paling sedikit seorang mu’takif adalah sejenak walaupun sekelabatan saja.

Sedangkan persyratan dari itikaf ini adalah :

1. Islam ; tidaklah sah itikaf yang dilakukan oleh orang kafir karena hal itu merupakan bagian dari keimanan.

2. Berakal atau tamyiz ; tidaklah sah itikaf seorang yang gila atau sejenisnya, tidak juga seorang anak yang belum tamyiz karena mereka tidak termasuk ahli ibadah.

3. Dilakukan di masjid; tidaklah sah itikaf yang dilakukan di rumah-rumah kecuali para ulama Hanafi yang membolehkan seorang wanita beritikaf di masjid didalam rumahnya, ia adalah tempat yang dikhususkan untuk shalat.

4. Niat; tidaklah sah itikaf kecuali dengan niat, sebagaimana hadits Nabi saw,”Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung dari niatnya.”

5. Puasa; ini merupakan syarat mutlak menurut Maliki dan persyaratan menurut Hanafi didalam itikaf nazar saja bukan yang sunnah. Puasa ini juga bukan persayaratan menurut Syafi’i dan Hambali sehingga itikaf sah walau tanpa berpuasa kecuali jika orang itu bernazar puasa bersama itikaf..

6. Bersih dari junub, haidh dan nifas menjadi pesyaratan menurut jumhur. Para ulama Maliki berpendapat bahwa bersih dari junub merupakan syarat diperbolehkannya orang itu menetap di masjid bukan menjadi syarat sahnya itikaf. Apabila seorang yang beritikaf bermimpi maka diwajibkan baginya untuk mandi baik di masjid jika terdapat air atau keluar dari masjid.

7. Izin dari suami bagi seorang istri merupakan syarat menurut Hanafi, Syafi’i dan Hambali. Tidaklah sah itikaf seorang wanita tanpa izin dari suaminya walaupun itikafnya itu adalah itikaf nazar. Sedangkan Maliki berpendapat bahwa itikaf seorang wanita yang tanpa izin suaminya tetap sah namun berdosa. (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu)

Wallahu A’lam.

(sumber : eramuslim.com)


About Me


Nama
TTL
Agama
Alamat Rumah
Domisili

Riwayat Pendidikan
TK
SD
SMP
SMA
Perguruan Tinggi

Riwayat Kost
SMP

SMA

Kuliah

Kerja

:
:
:
:
:

:
:
:
:
:

:

:

:

:

Irfani Latif
Wonogiri, 20 Januari 1988
Islam
Batuwarno, Wonogiri, Jawa Tengah 57674
Utanpanjang, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jakarta

TK Sumberejo I (1993-1994)
SD Negeri 1 Batuwarno (1995-2000)
SMP Negeri 1 Wonogiri (2001-2003)
SMA Negeri 1 Wonogiri (2004-2006)
D1 Kebendaharaan Negara – BDK III Yogyakarta (2007)

Mbah Tjip Kost
Jalan Kepodang V, Wonogiri, Jawa Tengah
Mbah Tibi Kost
Jalan Sanggrahan I, Wonogiri, Jawa Tengah
Pak Parno Kost
Jalan Solo Km. 11, Kalasan, Sleman, Yogyakarta
Pethek Underwater Kost
Jalan Pethek, Kota Lama, Semarang, Jateng
Bu Rowo Kost
Jalan Pusponjolo III, Semarang, Jateng
Pak Jono Kost
Jalan Utanpanjang III, Utanpanjang, Kemayoran, Jakarta Pusat